Diagnosis Apendisitis Akut didasarkan pada kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
- *1. Kriteria Diagnosis (Anamnesis dan Gejala Utama):**
- **Nyeri Perut:**
- Awalnya nyeri tumpul, samar, di regio periumbilikal atau epigastrium.
- Dalam 6-24 jam, nyeri berpindah dan menetap di kuadran kanan bawah (RLQ - Right Lower Quadrant), seringkali terlokalisasi di titik McBurney.
- Nyeri bertambah berat saat batuk, berjalan, atau bergerak.
- **Anoreksia:** Kehilangan nafsu makan (hampir selalu ada).
- **Mual dan/atau Muntah:** Biasanya terjadi *setelah* onset nyeri, bukan mendahului nyeri.
- **Demam:** Suhu tubuh umumnya subfebris (37.5-38.5°C), jarang tinggi.
- **Gangguan Pencernaan:** Konstipasi atau diare ringan dapat terjadi.
- *2. Tanda Klinis (Pemeriksaan Fisik):**
- **Nyeri Tekan Lokal (RLQ):**
- **Titik McBurney:** Nyeri tekan maksimal pada 1/3 lateral garis yang menghubungkan umbilikus dan spina iliaka anterior superior (SIAS) kanan. Ini adalah tanda paling konsisten.
- **Nyeri Lepas (Rebound Tenderness):** Nyeri yang memburuk saat tekanan dilepaskan secara tiba-tiba dari dinding perut, mengindikasikan iritasi peritoneal.
- **Defans Muskular (Guarding):** Ketegangan otot dinding perut kanan bawah sebagai respons terhadap nyeri. Dapat berupa volunter atau involunter.
- **Tanda-tanda Spesifik:**
- **Tanda Rovsing:** Nyeri di RLQ saat palpasi dalam pada kuadran kiri bawah (LLQ).
- **Tanda Psoas:** Nyeri di RLQ saat paha kanan diekstensikan melawan tahanan atau saat pasien tidur miring ke kiri dan paha kanan diekstensikan, mengindikasikan apendiks retrosekal.
- **Tanda Obturator:** Nyeri di hipogastrium saat paha kanan difleksikan dan dirotasi internal, mengindikasikan apendiks pelvik.
- **Tanda Dunphy:** Nyeri di RLQ yang memburuk saat batuk.
- *3. Pemeriksaan Penunjang (Sesuai Standar Kemenkes RI):**
- **Pemeriksaan Laboratorium:**
- **Darah Lengkap (CBC):**
- **Leukositosis:** Peningkatan jumlah sel darah putih (>10.000/µL) dengan dominasi neutrofil (neutrofil >75%) dan *shift to the left* (peningkatan neutrofil imatur/batang).
- **C-Reactive Protein (CRP):** Sering meningkat, namun tidak spesifik. Berguna sebagai penanda inflamasi.
- **Urinalisis:** Untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih (ISK) atau batu saluran kemih. Beberapa sel darah merah/putih dapat ditemukan jika apendiks berdekatan dengan ureter.
- **Human Chorionic Gonadotropin (hCG):** Wajib pada wanita usia subur untuk menyingkirkan kehamilan ektopik.
- **Pemeriksaan Radiologi:**
- **Ultrasonografi (USG) Abdomen:**
- **Indikasi Utama:** Pemeriksaan lini pertama, terutama pada wanita hamil dan anak-anak, untuk menghindari radiasi.
- **Temuan:** Apendiks non-kompresibel, diameter >6 mm, penebalan dinding apendiks, tanda "target sign", appendicolith (batu apendiks), cairan periappendiceal.
- **Keterbatasan:** Operator-dependent, terhalang oleh gas usus, sensitivitas bervariasi.
- **Computed Tomography (CT) Scan Abdomen:**
- **Indikasi Utama:** Jika USG inkonklusif atau diagnosis meragukan, atau dicurigai adanya komplikasi (misalnya perforasi, abses).
- **Temuan:** Apendiks terdistensi (>6 mm), penebalan dinding, stranding lemak periappendiceal, appendicolith, abses.
- **Keunggulan:** Sensitivitas dan spesifisitas tinggi, dapat mendeteksi komplikasi dengan baik.
- **Keterbatasan:** Paparan radiasi, risiko reaksi kontras.
- **Magnetic Resonance Imaging (MRI):** Alternatif untuk wanita hamil jika CT scan dikontraindikasikan.
- *4. Sistem Skoring (Opsional, untuk membantu):**
- **Skor Alvarado:** Mempertimbangkan gejala, tanda, dan laboratorium (nyeri migrasi, anoreksia, mual/muntah, nyeri tekan RLQ, rebound tenderness, demam, leukositosis, shift to the left). Skor >7 sangat sugestif apendisitis.
- **Skor RIPASA:** Dianggap lebih akurat untuk populasi Asia.