Diagnosis Asma Bronkial ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala klinis yang khas, pemeriksaan fisik, dan konfirmasi obyektif adanya limitasi aliran udara yang reversibel.
- *1. Kriteria Diagnosis & Gejala Utama:**
- **Gejala Respiratori Berulang:** Mengalami episode berulang mengi (wheezing), sesak napas, rasa berat di dada, dan batuk.
- **Pola Gejala Khas:**
- Sering memburuk di malam hari atau pagi hari.
- Gejala bervariasi dari waktu ke waktu dan intensitasnya.
- Dipicu oleh faktor tertentu seperti olahraga, alergen, udara dingin, infeksi virus, iritan (asap rokok, polusi).
- **Reversibilitas Limitasi Aliran Udara:** Adanya bukti obyektif limitasi aliran udara yang reversibel secara spontan atau dengan pengobatan bronkodilator.
- *2. Tanda Klinis (Pemeriksaan Fisik):**
- **Mengi (Wheezing):** Suara napas tambahan bernada tinggi saat ekspirasi, sering terdengar bilateral (dapat juga unilateral pada kasus tertentu atau tidak ada saat serangan sangat berat/silent chest).
- **Ekspirasi Memanjang:** Fase ekspirasi lebih lama dari inspirasi.
- **Takipnea:** Peningkatan frekuensi napas.
- **Penggunaan Otot Bantu Napas:** Terutama pada serangan asma sedang-berat (retraksi interkostal, supraklavikular).
- **Takikardia:** Peningkatan denyut jantung.
- **Sianosis:** Pada kasus serangan berat dan hipoksemia (jarang).
- *Catatan:* Pemeriksaan fisik dapat normal di luar serangan asma.
- *3. Pemeriksaan Penunjang Wajib (Sesuai Standar Kemenkes RI):**
- **Spirometri:**
- **Fungsi:** Untuk konfirmasi diagnosis, menilai derajat keparahan, dan memantau respons terapi.
- **Hasil Khas:**
- Nilai FEV1/FVC (rasio volume ekspirasi paksa dalam 1 detik terhadap kapasitas vital paksa) < 0,70 (atau di bawah batas normal terendah/LLN).
- **Uji Reversibilitas Bronkodilator Positif:** Peningkatan FEV1 > 12% dan > 200 mL dari nilai dasar setelah pemberian bronkodilator kerja cepat (misal: Salbutamol 400 mcg).
- **Peak Expiratory Flow (PEF) Meter (Arus Puncak Ekspirasi):**
- **Fungsi:** Dapat digunakan untuk skrining awal, pemantauan mandiri, dan menilai variabilitas harian.
- **Hasil Khas:** Variabilitas harian PEF > 20% (pada pagi vs malam) mendukung diagnosis asma jika spirometri tidak tersedia atau tidak konklusif. Tidak direkomendasikan sebagai pengganti spirometri untuk diagnosis konfirmasi.
- **Pemeriksaan Lain (Sesuai Indikasi, Bukan Wajib untuk Diagnosis Dasar):**
- **Foto Toraks (Rontgen Dada):**
- **Fungsi:** Umumnya normal pada asma. Dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis lain (misal: pneumonia, PPOK, TB paru, benda asing), terutama pada presentasi atipikal, asma yang sulit dikontrol, atau ada komplikasi. Bukan untuk diagnosis asma.
- **Uji Provokasi Bronkus (Contoh: Metakolin, Histamin, Olahraga):**
- **Fungsi:** Dilakukan jika spirometri dan reversibilitas normal namun kecurigaan asma sangat tinggi (misal: asma varian batuk). Tidak rutin dilakukan di fasilitas primer.
- **Uji Alergi (Skin Prick Test atau IgE Spesifik):**
- **Fungsi:** Untuk mengidentifikasi pemicu alergi yang relevan, membantu dalam strategi penghindaran alergen. Bukan untuk diagnosis asma itu sendiri.
- **Darah Lengkap:** Eosinofilia dapat ditemukan pada asma atopik, tetapi tidak spesifik untuk diagnosis.
- --