|Konsensus.id
Kembali ke Pencarian
Pedoman PPK Kemenkes

Panduan Praktik Klinis & Alur BPJS: Gastroenteritis Akut

Pedoman tata laksana medis, kriteria diagnosis penunjang, dan compliance checklist kelengkapan klaim BPJS Kesehatan di Indonesia.

Core Diagnostic Triggers

  • **Definisi:** Gastroenteritis akut adalah peradangan pada saluran cerna (lambung dan usus) yang berlangsung <14 hari, ditandai dengan diare mendadak (≥3 kali buang air besar cair dalam 24 jam), dapat disertai muntah, nyeri perut, demam.
  • **Gejala Utama:**
  • Diare akut (≥3 kali/hari, konsistensi cair)
  • Muntah
  • Nyeri perut, kram perut
  • Demam ringan hingga sedang
  • Lemas, dehidrasi (turgor kulit menurun, mata cekung, membran mukosa kering)
  • **Anamnesis Penting:**
  • Lama dan frekuensi diare/muntah
  • Tanda dehidrasi (haus, jumlah urine menurun)
  • Riwayat konsumsi makanan/minuman, perjalanan, kontak dengan penderita serupa
  • **Pemeriksaan Fisik:**
  • Tanda vital (nadi, tekanan darah, suhu)
  • Status hidrasi (turgor, mata, membran mukosa, kesadaran)
  • **Pemeriksaan Penunjang:**
  • **Laboratorium:** Tidak wajib pada kasus ringan. Pada kasus sedang/berat atau dengan komplikasi:
  • Elektrolit serum (Na, K, Cl)
  • Ureum, kreatinin
  • Feses rutin/mikroskopis (bila dicurigai infeksi bakteri/parasit)
  • Kultur feses (pada kasus berat, diare berdarah, atau outbreak)
  • **Radiologi:** Tidak rutin. Hanya jika dicurigai komplikasi (ileus, perforasi).

Standard Treatment Workflow

1. **Penilaian Derajat Dehidrasi:**

  • **Tanpa dehidrasi:** Tidak ada tanda dehidrasi
  • **Dehidrasi ringan-sedang:** Haus, gelisah, turgor menurun, mata cekung
  • **Dehidrasi berat:** Lemas, letargis, tidak bisa minum, turgor sangat menurun, nadi lemah

2. **Rehidrasi:**

  • **Tanpa dehidrasi:** Cukup cairan oral (air, ASI, oralit 10 ml/kgBB tiap BAB cair)
  • **Dehidrasi ringan-sedang:** Oralit 75 ml/kgBB dalam 4 jam pertama, lanjutkan oralit tiap BAB/muntah
  • **Dehidrasi berat:** Ringer Laktat/NaCl 0,9% IV, 20 ml/kgBB bolus, ulang sesuai respons, lanjutkan oralit setelah sadar

3. **Terapi Simptomatik:**

  • **Zinc:** 20 mg/hari (anak >6 bulan & dewasa), 10 mg/hari (anak <6 bulan), selama 10–14 hari
  • **Antipiretik:** Paracetamol jika demam
  • **Antiemetik:** Hanya jika muntah berat (contoh: ondansetron, dosis sesuai usia/berat badan)

4. **Terapi Antibiotik (hanya jika indikasi):**

  • **Indikasi:** Diare berdarah, demam tinggi, kecurigaan kolera, imunokompromais, diare persisten
  • **Pilihan:**
  • **Ciprofloxacin:** 2 x 500 mg/hari selama 3–5 hari (dewasa)
  • **Azithromycin:** 1 x 500 mg/hari selama 3 hari (dewasa)
  • **Kontraindikasi:** Hipersensitivitas, kehamilan (untuk quinolon), gangguan fungsi hati berat

5. **Probiotik:** Dapat diberikan sebagai tambahan, bukan terapi utama

6. **Pantangan:** Hindari makanan tinggi lemak, susu sapi (pada anak), makanan pedas

7. **Tindak Lanjut:** Evaluasi hidrasi, tatalaksana komplikasi (syok, gangguan elektrolit)

BPJS Compliance Checklist

  • **Diagnosa:** Kode ICD-10 A09 (Gastroenteritis dan kolitis non-infeksi akut, tidak spesifik)
  • **Kriteria Klaim:**
  • Diagnosa ditegakkan oleh dokter faskes tingkat 1 (puskesmas/klinik) atau IGD RS
  • Tercantum penilaian derajat dehidrasi dan terapi cairan yang diberikan
  • Pemberian oralit dan zinc wajib dicatat dalam rekam medis
  • Antibiotik hanya diberikan jika ada indikasi medis jelas, dicantumkan alasan pemberian
  • Pemeriksaan penunjang (laboratorium) hanya jika ada indikasi klinis (dehidrasi berat, gagal rehidrasi, komplikasi)
  • **Rujukan:**
  • Rujukan ke RS jika: dehidrasi berat, gagal rehidrasi oral, syok, komplikasi (kejang, gangguan kesadaran), atau diare berdarah berat
  • Surat rujukan harus lengkap dengan diagnosis, terapi awal, dan alasan rujukan
  • **Pembatasan Obat:**
  • Oralit, zinc, paracetamol, probiotik: dapat diberikan di faskes 1
  • Antibiotik: hanya jika indikasi, sesuai formularium nasional (FORNAS)
  • Antiemetik: sesuai indikasi, tidak rutin
  • **Dokumentasi:**
  • Rekam medis harus lengkap: gejala, tanda vital, status hidrasi, terapi, edukasi, dan follow-up
  • Tanda tangan dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) pada berkas klaim
  • **Spesialisasi:**
  • Kasus tanpa komplikasi dapat ditangani dokter umum
  • Kasus berat/komplikasi harus ditangani dokter spesialis anak/penyakit dalam di RS
  • *Catatan:** Selalu rujuk pada Panduan Praktik Klinis Kemenkes RI dan FORNAS BPJS terbaru untuk update tata laksana dan aturan klaim.