Diagnosis Hepatitis B Kronis ditegakkan berdasarkan kriteria klinis dan laboratorium yang ketat, dengan fokus pada persistensi infeksi dan tingkat aktivitas penyakit.
- *1. Definisi:**
- Ditemukannya **HBsAg positif** dalam darah selama **minimal 6 bulan berturut-turut**.
- *2. Tanda Klinis dan Gejala Utama:**
- **Asimtomatik:** Mayoritas pasien Hepatitis B Kronis tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun.
- **Gejala Non-spesifik:**
- Kelelahan kronis (fatigue)
- Malaise
- Anoreksia (hilang nafsu makan)
- Mual
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di kuadran kanan atas abdomen
- **Tanda dan Gejala Lanjut (Jika sudah terjadi Sirosis atau Komplikasi):**
- Ikterus (kulit dan mata kuning)
- Asites (penumpukan cairan di rongga perut)
- Edema perifer (pembengkakan pada tungkai)
- Hepatomegali (pembesaran hati) atau hati yang mengecil (pada sirosis lanjut)
- Splenomegali (pembesaran limpa)
- Spider angiomata, eritema palmaris (tanda-tanda sirosis)
- Ensefalopati hepatik (gangguan fungsi otak akibat penyakit hati)
- Perdarahan varises esofagus
- *3. Pemeriksaan Penunjang Wajib (Sesuai Standar Kemenkes RI dan Konsensus Nasional):**
- **Pemeriksaan Laboratorium:**
- **Marker Hepatitis B:**
- **HBsAg (Hepatitis B surface antigen):** Wajib, untuk konfirmasi infeksi kronis (> 6 bulan).
- **HBeAg (Hepatitis B e antigen) dan Anti-HBe (antibody to HBeAg):** Wajib, untuk membedakan fase HBeAg-positif (replikatif tinggi) dan HBeAg-negatif (replikatif rendah atau mutan pre-core).
- **HBV DNA (Hepatitis B Virus DNA) Kuantitatif:** Wajib, untuk mengukur jumlah virus dalam darah (viral load), sangat penting untuk menentukan fase penyakit dan indikasi terapi.
- **Anti-HBc total (antibody to Hepatitis B core antigen):** Menunjukkan kontak dengan virus HBV (infeksi lampau/kronis).
- **Anti-HBs (antibody to HBsAg):** Menunjukkan kekebalan (setelah vaksinasi atau sembuh dari infeksi akut).
- **Fungsi Hati:**
- **ALT (Alanine Aminotransferase) dan AST (Aspartate Aminotransferase):** Wajib, untuk menilai tingkat peradangan hati.
- **Albumin:** Wajib, indikator sintesis protein hati dan fungsi hati secara keseluruhan.
- **Bilirubin Total dan Direk:** Wajib, untuk menilai fungsi ekskresi hati dan adanya ikterus.
- **PT/INR (Prothrombin Time/International Normalized Ratio):** Wajib, indikator sintesis faktor koagulasi hati, penting pada sirosis.
- **Fungsi Ginjal:**
- **Kreatinin serum dan eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate):** Wajib, sebagai baseline sebelum memulai terapi antiviral, terutama Tenofovir.
- **Darah Lengkap (Complete Blood Count):** Wajib, untuk menilai adanya anemia, leukopenia, trombositopenia (sering pada sirosis dengan hipersplenisme).
- **Marker Keganasan:**
- **Alpha-Fetoprotein (AFP):** Wajib, sebagai skrining awal untuk karsinoma hepatoseluler (HCC), terutama pada pasien sirosis atau risiko tinggi.
- **Pemeriksaan Ko-infeksi:**
- **Anti-HCV (antibody to Hepatitis C Virus) dan Anti-HIV (antibody to Human Immunodeficiency Virus):** Direkomendasikan sebagai skrining ko-infeksi.
- **Anti-HDV (antibody to Hepatitis Delta Virus):** Pertimbangkan pada pasien dengan risiko tinggi atau penyakit hati yang lebih berat.
- **Pemeriksaan Radiologi:**
- **Ultrasonografi (USG) Abdomen:** Wajib, untuk menilai morfologi hati (ukuran, tekstur, adanya nodul, tanda-tanda sirosis), splenomegali, portal vein, dan mencari lesi fokal yang mencurigakan (untuk skrining HCC).
- **Elastografi Transien (FibroScan) atau Non-invasive Fibrosis Markers (APRI, FIB-4):** Sangat direkomendasikan untuk menilai tingkat fibrosis hati. Ini penting untuk penentuan prognosis dan indikasi terapi, mengurangi kebutuhan biopsi hati.
- **CT-Scan atau MRI Abdomen (dengan kontras):** Dilakukan jika ditemukan lesi fokal pada USG atau AFP meningkat signifikan, untuk diagnosis lebih lanjut HCC.
- **Biopsi Hati:**
- Saat ini tidak selalu wajib. Indikasi terbatas pada kasus dengan diagnosis yang tidak jelas, diskordansi antara marker non-invasif dan klinis, atau untuk evaluasi adanya penyakit hati penyerta.
- --