Diagnosis Tuberkulosis (TB) Paru Anak seringkali menantang karena kesulitan mendapatkan spesimen bakteriologis dan manifestasi klinis yang tidak spesifik. Pendekatan diagnostik mengandalkan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, seringkali menggunakan sistem skoring.
- *1. Kriteria Diagnosis (Skoring Diagnosis TB Anak Kemenkes RI / Modifikasi IDAI):**
Diagnosis TB Paru Anak ditegakkan berdasarkan skor total minimal 6 dari komponen berikut:
- **Kontak dengan pasien TB dewasa BTA positif:**
- Serumah: 3 poin
- Tidak serumah: 2 poin
- **Uji Tuberkulin (Mantoux Test/TST):**
- Indurasi ≥ 10 mm: 3 poin
- Indurasi 5-9 mm (dengan malnutrisi berat atau kontak erat): 2 poin
- *Catatan:* Jika HIV positif atau kontak TB berat, indurasi ≥ 5 mm sudah dapat dianggap positif.
- **Berat Badan/Tinggi Badan (BB/TB) menurut grafik WHO:**
- Status gizi kurang (berat badan menurun / tidak naik dalam 2-3 bulan tanpa sebab jelas): 2 poin
- **Demam tanpa sebab jelas > 2 minggu:** 1 poin
- **Batuk kronis > 3 minggu (tidak membaik dengan antibiotik):** 1 poin
- **Pembesaran kelenjar getah bening (KGB) superfisial (kolli, aksilla, inguinal) > 1 cm, multipel, tidak nyeri, atau tanda pembesaran KGB hilus pada foto toraks:** 1 poin
- **Gambaran radiologi toraks (Foto Toraks AP/Lateral):**
- Pembesaran KGB hilus/paratrakeal dengan atau tanpa infiltrat/konsolidasi: 3 poin
- Infiltrat luas, milier, efusi pleura: 3 poin
- *Diagnosis TB Anak ditegakkan jika skor ≥ 6.** Jika skor 5, pertimbangkan konsultasi atau observasi. Jika skor < 5, diagnosis TB kemungkinan kecil.
- *2. Tanda Klinis dan Gejala Utama:**
- **Anamnesis:**
- **Riwayat kontak:** Tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan pasien TB dewasa (terutama BTA positif).
- **Penurunan berat badan atau berat badan tidak naik:** Gagal tumbuh (failure to thrive) tanpa penyebab yang jelas.
- **Demam lama:** Suhu tidak terlalu tinggi, hilang timbul, terutama sore hari, berlangsung > 2 minggu dan tidak membaik dengan antibiotik umum.
- **Batuk kronis:** Batuk yang tidak kunjung sembuh > 3 minggu meskipun sudah diobati (misalnya dengan antibiotik).
- **Malaise/Lesu:** Anak tampak kurang aktif, mudah lelah.
- **Nyeri dada:** Jarang pada anak kecil, bisa ada pada anak yang lebih besar.
- **Keringat malam:** Jarang pada anak.
- **Pemeriksaan Fisik:**
- **Status gizi:** Malnutrisi, berat badan kurang.
- **Pembesaran KGB superfisial:** Umumnya di leher (kolli), ketiak (aksilla), selangkangan (inguinal). Ukuran > 1 cm, tidak nyeri, multipel, konsistensi kenyal, tidak ada tanda inflamasi akut.
- **Pemeriksaan paru:** Umumnya normal, kadang didapatkan ronkhi atau wheezing pada kasus yang lebih berat.
- **Hepatomegali/splenomegali:** Mungkin ditemukan pada TB milier atau TB diseminata.
- *3. Pemeriksaan Penunjang Wajib:**
- **Uji Tuberkulin (Mantoux Test/TST):** Injeksi intrakutan 0,1 ml PPD RT 23 unit 2 TU. Pembacaan indurasi dalam 48-72 jam.
- **Foto Toraks (X-foto Toraks AP/Lateral):**
- **Gambaran khas pada anak:** Pembesaran kelenjar getah bening hilus/paratrakeal (hilar adenopathy), infiltrat, konsolidasi, atelektasis (segmen atau lobar), efusi pleura, gambaran milier. Kavitas jarang ditemukan pada anak kecil.
- **Pemeriksaan Mikrobiologi (jika memungkinkan):**
- **Sputum:** Pada anak yang bisa batuk dan mengeluarkan dahak (biasanya usia > 5-7 tahun). Pemeriksaan BTA langsung dan kultur (Mycobacterium Tuberculosis).
- **Induksi Sputum/Nasopharyngeal Aspirate:** Dapat dilakukan pada anak yang tidak bisa mengeluarkan dahak.
- **Bilas Lambung (Gastric Lavage):** Dilakukan pagi hari sebelum makan, 3 hari berturut-turut. Cairan bilas dikirim untuk BTA langsung dan kultur.
- **GeneXpert MTB/RIF:** Sangat direkomendasikan karena sensitivitas tinggi dan dapat mendeteksi resistensi Rifampisin secara cepat dari berbagai spesimen (sputum, bilas lambung, cairan BAL).
- **Pungsi pleura/Biopsi (jika ada efusi pleura/limfadenopati yang mudah diakses):** Untuk diagnosis TB ekstrapulmoner atau konfirmasi pleuritis TB.
- --